Sunday, October 14, 2012

October's Highlights

So it's October already. A few highlights so far.

1. I'm going to go to Jakarta again this Thursday because Della's royal engagement is coming in hot!! Hahahh. I'm pretty excited and nervous at the same time.

2. Considering the royal engagement then I glanced into my closet, the first thing that struck my mind was what every girl always thinks about when she takes a look into her closet: "Crap, I don't have anything to wear!!" (padahal lemarinya penuh macem-macem baju hahahahaa).
So my mom agreed to buy me a kebaya (kebayas, actually hihihii). Hooraaaaayyy! Tapiii setelah kebayanya dipaket ke kosan dan aku coba, jeng jeng jeng, sarung kebayanya ga muat aja doooong di akuuuu!! It's the worst nightmare. No no no. Bukan akunya yang kegendutaaan! Orang kan sarungnya dicoba si Della juga (she has this freaking gorgeous bikini body, you know, flat abs and really long legs) dan di Della ga muat juga kok!! Hahahh! See, aku ga gendut tauuk. Sarungnya aja kekecilan nihh. Nah sekarang tapi peer buat benerin sarungnya huhuuh.

3. Surabaya had a rain last Thursday. Finally hahahaa. Well, though it was a quick rain and actually it was more like drizzling than raining, but it was okay. Because Lord knows how much I missed the rain. It was only too bad the rain was coming with a blackout. Blackout is totally the worst thing you can have in the rain.

4. And I truly failed miserably reading that Midnight's Children. Well, mungkin karena tersugesti duluan yah, gara-gara baca review yang pada bilang bahwa Midnight's Children adalah bacaan berat. Dan memang bacaan yang berat sih, tapi aku pikir jauhhh lebih ga menarik The Catcher In The Rye. Tapi tetep akhirnya aku masi males baca Midnight's Children, lebih tertarik baca ulang Harry Potter dan Sherlock Holmes hihii.

5. Dan akhirnyaaa, setelah telat seminggu dari jadwal, I finally have the copy of J.K. Rowling's The Casual Vacancy in my hand!!

J.K. Rowling's The Casual Vacancy
That belongs to me
Oh goodbye, Salman Rushdie. See ya, well, next year I think. Hihihiii.

Sunday, September 30, 2012

Sherlock The Series

Aku baru nonton series Sherlock! And I looooove it!!

I am usually not a fan of this kind of series, you know, series yang ceritanya tentang pembunuhan gini, macem CSI atau Dexter. Dan walaupun udah beberapa kali denger tentang Sherlock, tapi aku masi ga tertarik nonton. Tapiiiii kemaren nonton di Dita dan ternyata baguuuuuuus! Langsung deh ngopi season 1-2 hihihi.

Nahh, aku udah kelar nonton yang season 1 and I can't help to notice some things.

Setting waktunya beda dengan yang di novel dan filmnya, kalo Sherlock series ini mengambil London jaman modern. Dr John Watson diceritakan baru pulang dari perang di Afganishtan, sama kaya di novelnya dan sedang mencari flat murah di London. Kemudian Watson diperkenalkan dengan Holmes yang sedang bekerja di labnya. Ini yang bikin aku langsung tertarik, karena ceritanya mirip dengan yang di novel.

Lalu beberapa tokoh yang crucial, yang selalu ada di novel, film, maupun seriesnya, misalnya Mrs.Hudson dan Inspector Lestrade. Lalu ada Sarah Sawyer yang setauku di novel ga pernah ada yang namanya Sarah Sawyer. Aku taunya istrinya Dr.Watson itu Mary Morstan. Tapi aku sukaaaaaaa bangett sama Sarah Sawyer disini! Cantik, baik hati, dan pemberani! Selain itu ada Mycroft Holmes, saudara laki-lakinya Sherlock Holmes. Aku udah suka banget sama Mycroft dari waktu pertama kali baca The Bruce Partington Plan. Dan aku sih lebih suka Mycroft yang di series yah daripada yang di film hihii.

Lalu musuh bebuyutannya Holmes, Professor James Moriarty juga muncul, tapi kalau di series namanya sedikit berubah jadi Jim Moriarty. Aku lebih suka Moriarty yang di series daripada yang di film, karena yang di series jauh lebih serem. He gave chills to me bone!

Terus ada Dr.John Watson, of course. Sama-sama satu-satunya orang yang dekat dengan Holmes. Sama-sama penulis dan menuliskan petualangannya bersama Holmes. Tapi kalo Dr.Watson versi Jude Law lebih muda dan ganteng, dan juga bisa memarahi Sherlock Holmes kalau terlalu lama mengurung diri di kamarnya. But Martin Freeman also make a hell of a Dr.Watson. Oh ya, kalo di film dan di novel, Holmes dan Dr.Watson saling memanggil surname, tapi kalau di series mereka memakai first name.

Dan yang paling oke, Sherlock Holmes-nya. I think Benedict Cumberbatch portrayed Sherlock Holmes really well. Karena aku pernah nonton yang versi film maka mau ga mau pasting ngebanding-bandingin yaahh hehe. Over all, baik Robert Downey Jr dan Benedict Cumberbatch sama-sama bisa menggambarkan Sherlock Holmes di buku yang a very good violist, eccentric, genius, but untidy, arrogant, narcissist, loner, and his lack of ability to build a relationship with another person. Kalo di Sherlock series, si Sherlock Holmes-nya sering bertindak seenaknya dan lebih ngeselin daripada yang di film maupun di novel, bahkan terhadap Mrs. Hudson. Sedangkan kalau di novel, Holmes diceritakan always acted like a gentleman when it came to deal with women.

Terus mereka juga digambarkan sama-sama punya kebiasaan buruk seperti latihan menembak di dinding rumah, senang melakukan percobaan-percobaan kimia di flat, dan stres jika tidak memiliki kasus untuk dipecahkan. Kalo di series, Holmes memakai nicotine patch untuk mengatasi ketergantungannya pada nikotin, sedangkan kalau di novel, selain sering menggunakan pipa rokok, Holmes digambarkan sebagai pengguna obat-obatan terutama kalo sedang sepi kasus.

Walaupun secara garis besar Sherlock Holmes versi Benedict Cumberbatch dan Robert Downey Jr mirip, tapi aku merasa there's something different between them. Kalau Sherlock Holmes versi Robert Downey Jr adalah versi bad boy-nya sedangkan Benedict Cumberbatch adalah versi yang lebih nerd dan dorky. Daaaaaaann dari awal Holmes muncul di episode pertama Study In Pink, I can't help thinking kalau si Sherlock-nya Benedict Cumberbatch ini mengingatkanku pada seseorang. Guess who? He reminds me of Sheldon Cooper yang di Big Bang Theory!! Hahahahahahaa. Sifatnya yang seenaknya, suka memerintah orang lain, sering ngeselin, ihh bener-bener mirip Sheldon dah hahaha.

Nah sekarang mau lanjut namatin season 2! Yay!!

Tuesday, September 25, 2012

My Super Sweet Friends!!

Okay so I was on the wallet hunting mission. Budget-nya juga udah tersedia. Yah sebenernya ini adalah duit buat beli kacamata yang akhirnya aku abuse buat beli dompet huahaahahahha maap mamaaahh! Tapi udah bilang mama cihh, dan dibolehin kok disalurkan buat beli dompet hehehh.

Tapiiiii dasar akunya anak yang rewel dan pemilih yaahh, dari kemaren-kemaren kaga dapet-dapet dompet yang aku mau. Because I think wallet is something that will stick with you for a pretty long time, jadi aku gamau salah beli dompet dan nyesel. Ini pilih-pilih dompet apa pilih-pilih pacar yaaaa.

Dan sebenernya pun syarat dompet yang aku pingin juga ga banyak kok, aku bukannya pingin dompet dari kulit buaya atau gimana gitu. All that I want is dompet yang ga kaya dompet ibu-ibu gitu. Udah that's it. Tapi ga nemu aja lho.

Ehhh tak diduga tak dinyana, tadi waktu nemenin Dulce ke rumah pasiennya, tiba-tiba dia nanya, "Nooon, aku punya sesuatu buat kamu lhoooooohh!" sambil nyengir. Aku bengong. Apa yah. Ahh, kayanya si serum rambutku yang ketinggalan di rumah Della kali nih. Terus Della ngeluarin bungkusan abu-abu dan nyuruh buka. Dan ternyata isinya dompet yang cakeeeeeeeppp bangetttt hihihihihii. Makaci Dulceeeeeee!!



Beberapa hari yang lalu si Dulce emang sempet ngeliat-liatin dompet, nanya-nanya pendapat gitu. Kirain mau beli dompet juga, ehh gataunya dibeliin buat akuuuu. Ihhhh cocwit banget yahh temen aku satu iniiiii hihii.

Terusan juga trackball blackberry sempet ngadat (setelah ketumpahan susu hahaha). Tadinya udah males banget mau ke WTC buat ganti trackball, tapi ternyata Dita mau nemenin ganti trackball hihihii. Padahal Surabaya lagi cerah dan panas bangetttt lhoo. Dan motor Dita sempet ga mau distarter. Tapi Dita bela-belain tetep nemeniiiiinn. Awwwwww cocwiiiitt. Terus jadinya sekalian mamam dan beli buah buat cemilan sehat dikosan.

Ahhh jadi inget dulu pernah sakit, mual-mual sampe muntah, dibawain obat sama Dita. Terus cacingan (yes, cacingan! hahahahaa) juga dibawain obat sama Dita. Terus waktu maag, alergi kumat juga Dita nganterin ke dokter. Awwwwww cocwiiitt. Della juga pernah deh nganter ke dokter. Inka juga pernah nganterin ke dokter. Dibeliin makan sama mereka juga seriiiing! Ahh macem-macem banget dehh, sampe ga inget. Ihhh temen-temen aku cocwit semua yaaaaaahhh.

Alhamdulilaaaaaaahhh banget-bangetan dikasi temen-temen yang jempolan!! Walaupun ada lah kita berantemnya, ga enakan, ga ngomong. That's normal, I guess. Malah aneh kalo temenan tapi ga pernah berantem. Menurutku salah satu tanda kita udah deket sama orang adalah kalo kita udah bisa berantem sama orang tersebut.

Hihihihihii alhamdulilah ya Allaahh :D

PS: Aku baru tau arti kata miapa dan ciyus hahahaha ketinggalan jaman deh.

PS 2: I miss rainy days! Ayo dong sesekali hujan gituu huhuuhuhuu.

Tuesday, September 18, 2012

Hitokiri Battosai

Baru aja ga sengaja liat link ini.


Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aku kan dulu suka banget sama Kenshin. Aku inget banget aku dulu sedih banget waktu dulu ada episode dimana Kenshin-nya mati (waktu bertarung sama Shishio apa ya, lupa deh), itu anak-anak cowok juga pada ngomongin. Eh besokannya hidup lagiiii hahahahah kaya sinetron ya. Lalu aku juga suka episode waktu Kenshin harus bikin pedang bermata terbalik yang baru karena pedang yang lama patah. Aaaaahh jadi kangen pingin nonton lagii. Terus sekarang dibikin live action-nya aja lhoo. Tapi gitu aku liat trailernya, hmmmm kok Kenshin-nya lebih cakep yang di animasinya yaaaah hahahahaha. Jadi ga pingin liat haha. Tapi pemeran Kaori-nya cantik kok, kawai ala cewek Jepang.

Oh ya terus yang jadi Sanosuke Sagara juga kurang ganteng, sayang sekali. And one more thing. Kalo dipikir-pikir Kenshin itu agak mirip Jason Bourne yah. Sama-sama pembunuh bayaran insaf hihihi.

Wednesday, September 12, 2012

Six In One

Okay. Random quick updates time.

1. Aku dulu, dulu banget, merasa aman-aman aja nulis apa aja di blog. I thought, elahh, siapa juga yang bakal baca. Lagian aku ngecurhat galaunya juga pake kode-kodean gitu hahah ABG banget dah. tapi ternyata ada aja lho beberapa orang, yang terlanjur tau alamat blogku, yang dengan iseng buka blog ini. Jarang banget sih orang yang tau dan kenal aku yang suka buka-buka blog ini. But still, I have to carefully filter everything I wanna write down on this blog, or even not write it at all for good measure.
So why don't I make this blog private, then? Or make an entirely new blog? No, can't do baby doll. I wanna interact with people. How could I possibly do that if I make this blog private? And I guess I'm just too attached to this blog. Kalo nyoba nulis di blog lain, jadi gabisa keketik gitu maunya aku nulis apa hahahh sugesti kayanya. Oh, well.

2. I read this a few days ago. And I can't help thinking that I don't entirely agree with her. I think that luck plays a part as big as hardwork does in life. Well, if it doesn't, then where do you think the utterance "life is not fair" came from? Luck (or maybe destiny, if you will) defines our life. From the very beginning.
Let me elaborate. Dari mulai kita lahir. Kapan kita lahir, dimana kita lahir, atau bagaimana keadaan kita saat lahir, semuanya berpengaruh besar. Kapan kita lahir itu akan sangat mempengaruhi lho. Perempuan yang dilahirkan sebelum era emansipasi wanita hidupnya akan lebih sengsara daripada wanita yang lahir pasca jaman emansipasi wanita. Orang yang lahir di jaman penjajahan hidupnya akan jauh berbeda dibanding orang yang hidup di jaman modern. Lalu, dimana kita lahir juga akan menentukan. Orang yang lahir di Iraq akan berbeda kehidupannya dengan orang yang lahir di New York. Orang yang lahir di tengah-tengah keluarga berkecukupan, kaya raya mungkin, akan punya hidup yang berbeda dengan orang yang lahir di keluarga miskin. Atau ada juga keluarga broken home, keluarga single parent, dan lain-lain. Dan yang ga kalah penting, bagaimana keadaan kita waktu lahir. Apakah dilahirkan sehat, cacat, membawa gen penyakit, gen kecerdasan, cantik, ganteng, biasa, atau mungkin ga cantik dan ga ganteng. Ini semua akan berpengaruh sangat besar kan.
Apalagi hidup di FKG yaa. Akan sangat terasa banget kalo hidup itu ga cuma ditentukan kerja keras belaka. Bisa aja mulai kliniknya bersamaan, dapet pasien bersamaan, kerjanya juga sama-sama keras, eh tapi lulusnya beda jauh. Bisa karena ternyata pasiennya ga kooperatif, akar giginya bengkok atau buntu, dapet dosen galak daaan macem-macem sebab lainnya.
I'm not saying that hardwork means nothing. Hardwork could change all those bad luck into something good. So maybe the point of all the mess above is that we must keep trying and working our ass off. Maybe. Well, I'm still 23. What do I know, rite?
Ampun, aku ngelantur nih. Jadi curhat malah hahhaaha.

3. Okay I know that I put Midnight's Children as the book I'm currently reading on Goodreads. And I am reading it. At least I'm trying to read it hahahah. It's not like the book is boring, but I'm just not in the mood. Bukunya so far sih menarik, tapi aku lagi pingin baca-baca yang ringan aja. Ringan disini maksudnya buku yang udah pernah aku baca, so I'd know what to expect and on what page the good parts are.

4. Aku masih belom pernah buka web gosip apapun semenjak skandal K.Stew kemaren. Ada yang bilang di premiere-nya Breaking Dawn Part 2 nanti Robert, Kristen, dan Taylor gaakan hadir. Ada yang bilang kalo akan tetep hadir. Ada yang bilang udah balikan, but I don't buy it. Well, the good side is I'm not really that sad anymore.

5. Hari ini aku tour de mall dehh. Berturut-turut Galaxy Mall - Tunjungan Plaza - Grand City. How could I possibly go into three different malls in one day? Well, leave it to Della. She's hunting shoes for her royal engagement and she dragged me with her hahahaha. It was fun, though.

6. Aku tadinya mau beli kacamata atau dompet. Atau dua-duanya hahah. Tapiiiii kemudian aku inget kalau buku barunya JK Rowling, The Casual Vacancy, akan terbit September ini! And it suddenly hit me how precious first editions can be! Aku aja kalo bisa, mau banget kok beli first edition-nya Harry Potter dari 1-7. Langsung lupa kalo mau beli dompet dan kacamata.
Tadi waktu di Grand City sekalian ngecek Gramedia buat pre order. Tapi mbak customer service-nya kurang bisa diandalkan jadinya ga jadi pre order. Nyampe kosan langsung browsing nyari tau bisa pre order dimana aja. Ternyata di Gramedia sebenernya bisa, tapi pre order buat yang versi hard cover harganya Rp345.900 aja doooong (harga normalnya Rp406.000). God, I've never been buy a book that expensive. Sementara di Amazon cuman $20,9. Ihh kan males mau mesen di Gramedia! Aku cek Periplus ternyata bisa pre order juga, tapi di website-nya ga mencantumkan harga. Ga hilang akal, aku telpon Inca yang lagi di GM, minta tolong tanyain ke Periplus. Ehh, ternyata di Periplus pre order hard cover-nya Rp300.000 saja, sodara-sodara! Langsung titip pre order ke Inca! Horeeeeeeeeeeeyyy! Ceneeeeng hihihihi.

Bisa-bisa Midnight's Children akan semakin ditinggal nih hahahah.

Thursday, September 6, 2012

The Bourne Legacy

Guess whaaat, aku baru dari nonton The Bourne Legacy!! Aaaaaaaaaaaaaakkk. Dari pagi waktu diklinik cerita kalo aku mau nonton The Bourne Legacy, orang-orang kompakan pada bilang, "Ih jelek itu, Non, filmnya. mending nonton yang lain aja." Gitu. Berhubung aku suka banget-bangetan sama trilogi  Bourne sebelomnya (favorit sih yang The Bourne Supremacy, of course hihi), dan aku juga gandrung banget sama si ganteng Jeremy Renner, ya maju tak gentar dong yahh. Teteplah berangkat nonton! Huh hahh!! Tapi dalem hati udah setting expectation low, biar ga kuciwa-kuciwa amat kalo ternyata emang beneran jelek filmnya. Yah, itung-itung cuci mata liat si ganteng hihii.

tweets.seraph.me

Film dimulai dengan tiga setting tempat yang berbeda. Pertama di markas CIA dimana para petingginya memutuskan untuk men-terminate program Outcome, kedua di Alaska dimana Aaron Cross (Jeremy Renner) sedang melakukan training sebagai kewajibannya menjadi anggota Outcome, ketiga di lab biokimia dimana Dr. Marta Shearing (Rachel Weisz) menjalankan penelitiannya.

Kurang lebih pada tiga puluh menit pertama film ini masih susah dimengerti. Mungkin akan ada banyak pertanyaan seperti siapa Jason Bourne, apa itu Treadstone atau Blackbriar, siapa Pamela Landy, ini ada apa kok orang-orang itu nyemilin pil biru-ijo, pil biru-ijo itu apaan sihh, dan macem-macem lainnya. Terutama buat orang yang belom pernah nonton trilogi Bourne sebelumnya, dijamin bingung. Aku aja yang udah lama ga nonton ulang, jadi agak lupa akhirannya Bourne Ultimatum dulu gimana.

Tapi begitu mulai dijelaskan apa sebenarnya pil biru-ijo tersebut, filmnya mulai bisa dinikmati. The Bourne Legacy menurutku masih sangat membawa ciri khas seperti trilogi sebelumnya, yaitu dimana agen pemerintah yang mengembangkan suatu program khusus yang diharapkan menjadi senjata baru, tapi malah program tersebut get out of control and force them to terminate it.

Aaron Cross, seperti Jason Bourne, merupakan anggota program rahasia CIA yang dianggap bahwa keberadaan mereka berbahaya dan akhirnya mereka malah diburu oleh CIA itu sendiri. Mereka sama-sama diburu dengan tracking devices masa kini milik CIA. Mereka juga sama-sama cerdik, jago dalam hand-to-hand combat (ahh, aku paling suka sama adegan perkelahian tangan kosong, kereeeen gilaaakk!), dan mampu meloloskan diri dari CIA biarpun dengan peralatan seadanya (kalo dibandingin sama James Bond). Kalau Jason itu versi cool-nya agen pembelot, mungkin Aaron ini versi badungnya yah hahaa.

Dinilai dari segi action-nya, The Bourne Legacy ini sih oke punyaaa! Banyak adegan berantem Jeremy Renner yang bak-buk-bak-buk hap hap hap ehh musuhnya udah pada tergeletak semua gituuu! Kereeen abiiss! Udah gitu doi ganteng banget kaaaann. Matanya biru gelap, badannya lean but not bulky, tangkas, cerdas, jago berantem. Aduuhh mamaaaaa, ga kuaaattt pokoknya! Ide ceritanya juga cukup menarik walaupun kalau menurutku harusnya ga perlu dibuat se-membingungkan itu di awal film.

Mungkin yang kurang cuma emosionalnya yah. Gaada adegan yang bikin trenyuh dan ikutan sedih. Apa? Ini kan film action bukan film drama? Eits, jangan salah. Film itu gaakan berarti kalau ga mampu memanipulasi emosi penonton. Kalo dibanding sama trilogi Bourne sebelumnya, terutama The Bourne Supremacy favoritku, sih masih kalah jauh yaa. Pas nonton The Bourne Supremacy aku bisa ikut terhanyut merasakan perasaannya Jason, his confusion and fear about his gory past, his anger and guilt because the murder of his girlfriend Marie, and also his great remorse for the people he killed. Itu sumpah mengena banget emosinya. Aku bahkan sempet nangis waktu nonton hahahah of course.

Tapi aku puas banget sama The Bourne Legacy!! Aku kasi bintang empat! Aaaaaaaaaa jadi kangen pingin nonton film Bourne sebelumnya nihh hihii.

Veronica Roth: Insurgent

Okay. So I've just finished reading Insurgent like an hour ago. I want to write a fresh review, you know, right after I finished reading the book. 

http://veronicarothbooks.blogspot.com/p/books.html

1. The Factions
Insurgent picked up exactly where Divergent left off. That's a little unusual than the book series I'd read. There's usually a time gap between the current book with its predecessor. And there's no recap about the previous story. So if you read Divergent the year before, then you're screwed hahahh.

I previously stated that I found the faction system is impossible. It's difficult to believe that there's even a chance for that kind of world to exist. You can't just divide the world's population into five categories and force people to fit into it. The faction system feels primitive to me. It might've been more believable if the time setting is in the past, you know, like when racism was still the ideology of the month.

Roth is obviously trying to rationalize and sell us the faction system but it's a really hard concept to sell. Believability is really important here because if you don't believe that the existence of this faction system is possible, then you'll be having a hard time to understand the story and sympathize with the character and the conflicts they're dealing with.

But maybe you'll get it over with and just swallow the story. Like I did, haha.

2. The Plot
If Divergent is felt more like Sky High, Insurgent is felt more like Mockingjay. I think. It mostly about Tris and Tobias traveled to another factions looking for allies, there's sometimes gun fights or some other war stuffs.

And Roth is also clearly trying to explore the depth of the relationship between Tris and Tobias. I don't know why but I don't think she succeeded because their relationship still doesn't rub off on me. I still feel plain. I don't see sparks flying when I read the romance part about them.

And the plot itself is confusing. It's intricate and there are lot of new characters you've gotta keep track and you're not sure which one to trust. And also there's this super top secret about what actually is there outside the fence. It's not the type of plot that would arouse your curiosity. It's the kind of plot that confuses you and makes you wanna scream," just tell me what the f is all that about!"

And the top secret Marcus's been holding from everyone all the time and he insisted on showing it rather than just telling it? Ugh I think the secret is kept that long just to make the readers keep on reading until the last page. And why would Marcus took all the trouble to show that secret when he could've just told it already?

3. The Super Secret
Okay I know this review is full of spoilers but this one I'm about to spill is kinda huge, so if you stumbled on this review but actually you still wanna read the book, maybe you should stop right here.

Oh. So you're staying. Have it your way, then. So the point of the faction system is somehow to purify the humanity because the world outside the fence is full of chaotic and destruction. I'm not really sure how that's gonna work. And when suddenly the acknowledgement rolled down I was like, "What the hell? You gotta be kidding me! Wait, really? Is that it?? God unbelievable!" Yeah. True story.

If someone asks me whether or not I'm gonna read the next book, well I'm gonna say yes. Because I've already come this far and I clearly have no choice but just to keep going! The third book will be released on the Fall 2013. Still there's much time the get over this disappointment!